

“Tadi Mbah jalannya sempoyongan, Mas makanya terpaksa tidur di jalan. Sambil nunggu pembeli, dari pagi belum ada yang beli. Kepala Mbah sempet pusing soalnya dari pagi belum makan. Sebenernya Mbah udah nggak kuat ngayuh sepeda, Mas. Tapi harus tetap jualan keliling biar bisa makan.” - Mbah Karijem
Meski sepi pembeli, Mbah Karijem (66 tahun) dengan sabar menjual jamu dagangannya. Sudah puluhan tahun Mbah Karijem berjualan jamu di Denpasar.
Peminat minuman tradisional ini sudah tak sebanyak dulu, jaman sudah berubah. Kini menjual jamu bukanlah hal yang mudah, namun Mbah Karijem tetap semangat mencari nafkah. Karena beratnya beban yang harus dibawa dan kaki yang sering sakit, Mbah Karijem sudah tak kuat lagi mengayuh sepeda.

Setiap hari Mbah Karijem menempuh jarak lebih dari 30 kilometer bolak-balik. Ditambah lagi sambil mendorong sepeda tua yang berisi rombong jamu dagangannya yang cukup berat, mencapai 20 kg.
Mbah Karijem harus bangun dini hari untuk membuat jamu dan menyiapkan sarapan. Setelah semua selesai Mbah langsung bergegas berkeliling menjual jamunya. Setelah berjalan kaki puluhan kilometer, Mbah akan menepi dan beristirahat sebentar. Tubuhnya yang renta sudah kelelahan, hingga tak jarang Mbah ketiduran di pinggir jalan.

“Mbah kemarin sempet keserempet motor Mas. Kakinya nyeri, sakit sekali. Makanya Mbah cepet capek, harus istirahat setiap 15 menit. Apalagi bawa barang dagangannya berat sekali…”
Mbah Karijem tinggal sebatang kara bersama suaminya yang sama-sama sudah lansia. Sang suami setiap harinya hanya bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan yang tak menentu. Sedihnya, anak-anak mereka semua ada di Jawa, tak pernah ingin tahu kondisi sulit kedua orangtuanya.

Mbah berjualan sampai maghrib, pekerjaannya sebagai penjual jamu memiliki pendapatan yang jauh dari kata cukup. Keuntungan yg didapat untuk setiap jamu yang terjual hanya 500 perak. Per harinya pendapatan Mbah Karijem hanya berkisar antara Rp. 15.000 - 20.000.
Tentu pendapatannya tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari keluarga Mbah Karijem dan suami. Membayar kost sepetak yang sempit dan kumuh dengan biaya Rp. 350.000/bulannya saja, mereka tak mampu dan sering menunggak.
Mbah Karijem dan suami juga jarang bisa memakan ayam dan daging, setiap hari hanya berlaukan tempe, tahu dan telor. Namun, Mbah Karijem dan suami tetap bersyukur atas usia dan rezeki yang sudah Allah tetapkan untuknya.

“Walaupun dapat uang sedikit Mbah harus tetap bersyukur. Kerja itu yang penting ikhlas Mas, bisa membahagiakan keluarga dan orang lain. Alhamdulillah mendapatkan hasil dan mendapatkan pahala. Kalau dapat uang cukup jangan lupa untuk berbagi. Mbah tahu rasanya nggak bisa makan karena nggak ada uang, makanya saya sedekahkan sedikit buat yang membutuhkan..."

#OrangBaik, melalui bantuanmu, kita bisa sampaikan ke Mbah Karijem dan sang suami bahwa mereka tidak sendirian. Bersama mari kita bisa bantu mereka di usia senjanya untuk bisa menjalani kehidupan yang lebih baik dan layak melalui:
***
Tak hanya berdonasi, Sahabat juga dapat membagikan galang dana ini agar semakin banyak orang yang menyebarkan kebaikan. Terima kasih!