
Sepasang kaki renta & keriput milik Mbah Gandul (73 Tahun) terus menyusuri jalanan di bawah terik matahari di Kota Denpasar. Sambil tertatih menyeret tubuh rentanya, Mbah Gandul jalan kaki tempuh 20 KM sambil memikul karung berisi botol bekas.

“Udah 3 hari mbah tidur di kolong jembatan sampe emperan toko karena gak ada biaya. Mau beli makan aja mikir-mikir, mending uangnya dikumpulin buat bayar kontrakan. Kalo nunggak, mbah bisa diusir, nak..” ucap Mbah Gandul.
Mbah berjalan dengan gontai, kakinya terasa sangat lemas menahan lapar dan penat. Bekal nasi berlaukkan tempe sudah habis ia santap, kini tinggal bekal setengah botol air dan rasa syukur di bibirnya.

Betapa bahagianya Simbah saat mendapatkan sepotong roti yang aku bawa. Ternyata, simbah belum makan nasi lagi sejak kemarin pagi. Beliau tak punya ongkos untuk pulang karena hasil rongsokan belum bisa dijual. Kalaupun ada upahnya mau simbah tabung untuk bayar kontrakan.

Mirisnya, simbah harus kumpulkan botol bekas sebanyak 10 kg agar mendapatkan upah 15 ribu. Namun, bagi lansia sepertinya botol sebanyak itu sangat sulit dikumpulkan. Butuh waktu 1 minggu agar simbah bisa menjualnya ke pengepul.

“Dulu, botol 10 kg bisa mbah kumpulkan dalam waktu 3 hari. Tapi, makin tua kakinya sering sakit. Simbah sering terpeleset, kakinya sampe berdarah tertusuk kaca waktu cari botol bekas di TPS.
Sakitnya setengah mati, sampai sekarang masih sakit kalo jalan terlalu jauh. Makanya simbah gak bisa ngumpulin botol bekas lagi seperti dulu..” - Mbah Gandul.

Sahabat, kisah Mbah Gandul hanyalah satu dari ribuan potret lansia dhuafa yang hidup menderita di usia senjanya. Maukah kamu menjadi alasan simbah dan para lansia lainnya tersenyum hari ini?
Mari salurkan bantuan terbaikmu melalui:
1. Klik "DONASI SEKARANG"
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran (GO-PAY/BNI Syariah/BRI/BCA/Mandiri/DANA/ShopeePay)
4. Kamu akan mendapatkan laporan via email
Terima kasih banyak Sahabat!
![]()
Menanti doa-doa orang baik