
Banyak ojol yang berjuang mencari nafkah setiap hari, tapi kisah mereka berbeda. Mereka bukan sekadar mengantar penumpang atau barang, melainkan berjuang melewati batas kemampuan fisik dan kondisi keluarga yang sangat berat. Ada yang harus menarik kakinya yang pincang, ada yang bekerja sambil menggendong anak difabel, dan ada pula yang tetap berjuang menghidupi sang istri sedang kritis di rumah sakit.
Pak Agus (38 tahun) seorang driver ojol sedang memeluk anaknya yang menangis dan kejang-kejang. Selama ini Pak Agus kerja narik ojek sambil gendong anaknya yang sakit lumpuh otak. Badannya kurus kering, tulang kaki dan tangannya lemas tak berdaya.

Pak Agus tak punya pilihan lain selain membawa Rafa bekerja. Semenjak istrinya meninggal akibat Covid-19, mereka hanya tinggal berdua. Pak Agus tak bisa meninggalkan Rafa sendirian di kontrakan karena ia sering kejang dan sesak napas.
Dalam sehari, Rafa bisa kejang sampai 15 kali. Biasanya anak lumpuh otak juga kesulitan bernapas dan tak bisa bergerak. Bahkan, untuk menggerakkan jarinya saja Rafa bisa menangis histeris padahal usianya sudah 6 tahun. Hal ini terjadi karena pengobatan Rafa terputus. Seharusnya ia rutin mengikuti terapi seumur hidup. Namun, biaya sekali terapi tidaklah sedikit bagi Pak Agus. Setiap 2 minggu Rafa butuh biaya 2 juta, itupun diluar obat dan susu. Belum lagi biaya kost yang sering nunggak.

“Pernah suatu hari saat antar penumpang, Rafa tiba-tiba nangis dan kejang-kejang. Saya terpaksa berhenti ditengah jalan dan kasih susu buat Rafa. Kadang ada customer yang minta di cancel dan gak kasih upah sama sekali..” lirih Pak Agus.

Selain Pak Agus, ada juga Pak Budi, ojol yang bekerja meskipun harus menyeret kakinya yang pincang

Pak Budi dulu aktif bekerja dan sering menerima orderan. Namun kini untuk bekerja pun sebenarnya beliau tak sanggup. Menerima 2- 3 orderan saja beliau sudah keringat dingin, namun apalah daya, bila tak bekerja ia tak bisa membayar biaya kost yang menunggak dan kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Cerita sedih ini bermula lima tahun lalu saat motor yang dikendarainya ditabrak oleh mobil dari belakang. Pak Budi terlempar di jalan dan tak sadarkan diri, ia pun segera di bawa ke UGD oleh warga yang ada di sekitar lokasi kejadian.
Pak Budi sempat koma selama beberapa hari dengan kondisi banyak tulang yang patah. Setelah itu beliau menjalani operasi pasang pen untuk membantunya bisa berjalan lagi.
Namun karena keterbatasan ekonomi, Pak Budi tak bisa rutin kontrol ke RS. Padahal tulang kaki kiri Pak Budi sangat ngilu akibat pen tersebut. Syaraf-syaraf kakinya mengecil sehingga bagian kulit luar dan dagingnya mati rasa meski di tusuk dengan pisau sekalipun.
Kini pen tersebut tidak bisa dicabut karena sudah menyatu dengan tulang dan daging.

Selain dipasang pen, kaki kiri Pak Budi juga memakai sepatu khusus dari besi dan beliau selalu membawa tongkat untuk menopang tubuhnya agar bisa berdiri dan berjalan.
Karena kondisi Pak Budi yang seperti itu, dokter sebenarnya sudah melarang agar Pak Budi tidak bekerja menjadi ojol lagi karena sangat beresiko jatuh atau pingsan di jalanan. Namun apalah daya, Pak Budi harus banting tulang untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan fisiknya.
Selain Pak Agus dan Pak Budi, ada juga Pak Muslim ojol yang tidak sekadar cari nafkah tapi berjuang keras demi istrinya yang sedang kritis.

Istri Pak Muslim, Bu Made Setiani adalah seorang mualaf asal Kintamani. Awalnya ia didiagnosis anemia. Namun, dalam jangka waktu hanya sebulan kedua kakinya tidak bisa digerakkan.
Karena kondisinya yang cukup parah, Bu Made dibawa ke UGD RS Sanglah sampai sekarang masih membutuhkan perawatan intensif. Bu Made mengalami gagal ginjal dan jantung.

Sambil menemani sang Istri, Pak Muslim juga harus menjaga anak semata wayangnya yang baru berusia 5 tahun. Karena itu, sambil narik ojek Pak Muslim juga membawa anaknya bekerja.

Dokter mengatakan HB Ibu Made hanya 4,6, sangat jauh dari batas normal. Ia harus menjalani serangkaian tindakan cuci dan transfunsi darah untuk menyelamatkan nyawanya.

Namun, biaya pengobatannya mencapai ratusan juta. Pak Muslim tak punya uang sebanyak itu, beliau sepi orderan. Bahkan pernah penghasilannya hanya 15 ribu per hari hingga Ia harus tidur di jalanan karena lembur demi mencari biaya pengobatan istrinya
Mereka bukan ojol biasa — saat perjuangan mereka sudah melewati batas, bantuan kita bukan hanya sekadar dukungan, tapi harapan nyata untuk mereka dan keluarga yang bergantung pada mereka. Sahabat, maukah kamu membantu meringankan beban hidup mereka? kami mengajakmu bersama dengan cara:
Terima Kasih Orang Baik!
Donasi dari galang dana ini juga akan digunakan untuk penerima manfaat dengan kondisi dan kebutuhan serupa lainnya di bawah naungan Rumah Peduli Annisa.
![]()
Menanti doa-doa orang baik