ImageBanting Tulang Di Usia Senja, Tolong Lansia Bertah...
Image

Banting Tulang Di Usia Senja, Tolong Lansia Bertahan Hidup

Rp 3.408.285 terkumpul dari Rp 200.000.000
44 Donasi sudah berakhir

Penggalang Dana

Image
Image
Verified Organization

Banyak lansia masih berjuang keras setiap hari hanya untuk bertahan hidup—tanpa cukup makan, tanpa tempat tinggal layak, dan tanpa pengobatan. Mereka butuh bantuan kita sekarang juga.

 

Kakek Sunali, wajahnya hancur, matanya tak bisa melihat, jari kaki dan tangannya putus akibat ditabrak mobil. Demi bertahan hidup, beliau hanya mengandalkan setumpuk sampah yang dijual seharga 2 ribu per kilogram bersama istrinya.


Sudah 7 tahun kakek dan istrinya bertahan hidup dari sampah dan barang rongsokan, seminggu mereka hanya dapat 20 ribu. “1 kilo sampah dijual cuma dapat 2 ribu nak. Kalau kakek mau ngumpulin 7 kilo harus ngumpulin selama seminggu. Kadang sehari, gak kuat bawa 1 kilo karung karena di tengah jalan kaki sakit sekali.. Setelah kecelakaan, jari kakek sudah diamputasi jadi kalau jalan rasanya perih..” - Kakek Sunali.

Kesedihan kakek dan istrinya terus datang seperti berlomba-lomba, Setelah kecelakaan, rumah kontrakan mereka hancur karena kebakaran. Semua barang hangus dilahap api. 

“Pernah waktu itu, Bapak (kakek Sunali) pergi cari sampah sendirian. Seharian gak pulang, pas saya cari, ada warga yang baik hati antar Bapak ke rumah, ternyata Bapak tersesat luntang-lantung sampai nahan lapar karena gak punya uang" - istri kakek Sunali.

Perjuangan hidup Kakek begitu menyayat hati. Walaupun dihadapkan cobaan terus menerus, kakek tetap berjuang bertahan hidup di usia senja sekalipun harus menahan lapar dan menapaki jalanan untuk mengais rejeki. 

Selain kakek Sunali, lansia yang terus berjuang bertahan hidup di usia yang semakin tua yaitu Mbah Gandul. Di usia yang ke-73 tahun, beliau terus menyusuri jalanan di bawah terik matahari Kota Denpasar. Sambil tertatih menyeret tubuh rentanya, Mbah Gandul harus berjalan kaki menempuh 20 KM sambil memikul karung berisi botol bekas. 

“Udah 3 hari mbah tidur di kolong jembatan sampe emperan toko karena gak ada biaya. Mau beli makan aja mikir-mikir, mending uangnya dikumpulin buat bayar kontrakan. Kalo nunggak, mbah bisa diusir, nak..” ucap Mbah Gandul.

Mbah berjalan dengan gontai, kakinya terasa sangat lemas menahan lapar dan penat. Bekal nasi berlaukkan tempe sudah habis ia santap, kini tinggal bekal setengah botol air dan rasa syukur di bibirnya.

Betapa bahagianya Simbah saat mendapatkan sepotong roti yang aku bawa. Ternyata, simbah belum makan nasi lagi sejak kemarin pagi. Beliau tak punya ongkos untuk pulang karena hasil rongsokan belum bisa dijual. Kalaupun ada upahnya mau simbah tabung untuk bayar kontrakan. 

Mirisnya, simbah harus kumpulkan botol bekas sebanyak 10 kg agar mendapatkan upah 15 ribu. Namun, bagi lansia sepertinya botol sebanyak itu sangat sulit dikumpulkan. Butuh waktu 1 minggu agar simbah bisa menjualnya ke pengepul. 

Dulu, botol 10 kg bisa mbah kumpulkan dalam waktu 3 hari. Tapi, makin tua kakinya sering sakit. Simbah sering terpeleset, kakinya sampe berdarah tertusuk kaca waktu cari botol bekas di TPS. 

Sakitnya setengah mati, sampai sekarang masih sakit kalo jalan terlalu jauh. Makanya simbah gak bisa ngumpulin botol bekas lagi seperti dulu..” - Mbah Gandul. 

Selain Kakek Sunali dan Mbah Gandul, masih ada lansia yang harus berjuang demi bertahan hidup yaitu Mbah Sus. 

Beliau adalah Mbah Sus, lansia 64 tahun yang merantau sendirian demi bisa mencari nafkah untuk keluarganya di kampung. 

Mbah Sus menjual perabotan kayu seperti dipan, pintu, kursi dan meja dengan menarik gerobak lusuhnya. Beliau tiap hari menempuh jarak belasan kilometer untuk cari pembeli. Tapi sayang, dagangan Mbah susah laku. 

Dalam seminggu paling hanya 1 atau 2 barang saja yang terjual. Bahkan tak jarang berminggu-minggu tak ada pembeli sama sekali.

Seringkali Mbah Sus kelaparan dan tidak bisa makan karena tak ada pembeli. Mbah Sus juga sering puasa meskipun sudah tidak kuat. Tapi Mbah Sus tak punya pilihan, bahkan Mbah mengikat perutnya pakai karet supaya bisa menahan lapar seharian. 

Padahal fisik Mbah yang makin tua nggak bisa bohong, Mbah jadi lemas dan makin gampang lelah. Belum lagi gerobak besar dan berisi perabotan kayu itu tidaklah ringan.

Sahabat, kisah Kakek Sunali, Mbah Gandul, dan Mbah Sus hanyalah satu dari ribuan potret lansia yang hidup menderita  di usia senjanya. Maukah kamu menjadi alasan para lansia lainnya tersenyum hari ini? 

#OrangBaik yuk bantu meringankan bebanpara lansia dhuafa yang berjuang untuk hidup, bantuan dari #OrangBaik amat berarti bagi para lansia dan keluarganya.

Segera bersedekah untuk mereka dengan cara:

  1. Klik tombol “DONASI SEKARANG”
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Pilih metode pembayaran transfer Bank
  4. Dapatkan laporan melalui WhatsApp paling lambat 2x24 jam setelah berdonasi. 

Terima Kasih Orang Baik!

Donasi dari galang dana ini juga akan digunakan untuk penerima manfaat dengan kondisi dan kebutuhan serupa lainnya di bawah naungan Rumah Peduli Annisa.

  • June, 12 2025

    Campaign is published

Bambang Anggoro11 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 102.665
Mairinda Ekayanti11 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 51.312
Orang Baik11 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 20.632
Mbak Ewa11 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 104.021
BLINK11 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 54.560

Doa-doa orang baik

Menanti doa-doa orang baik

Bagikan melalui:
✕ Close